Keajaiban di Jalanan Busan: Air Mata Mahasiswi Sri Lanka dan Kejujuran yang Mengubah Nasib
BUSAN, KOREA SELATAN – Kota pelabuhan yang ramai, Busan, menjadi saksi bisu tragedi dan keajaiban yang menyentuh hati. Bagi seorang mahasiswi Sri Lanka, hari itu dimulai dengan optimisme dan harapan, namun dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk terburuk.
Selama berbulan-bulan, ia telah berjuang, bekerja keras hingga titik lelah, demi mengumpulkan bekal masa depannya: 1,13 juta Won, setara sekitar Rp13,5 juta. Uang yang berarti segalanya, dibungkus rapi dalam amplop, siap dibayarkan untuk biaya studinya. Namun, dalam sekejap, di tengah hiruk pikuk jalanan kota, amplop itu lenyap, hilang tanpa jejak.
Keputusasaan di Kantor Polisi
Panik menjalari setiap sarafnya. Putus asa menggerogoti. Air mata bercucuran tanpa henti saat ia tersandar di kantor polisi, ponsel penerjemah menjadi satu-satunya jembatan komunikasi dengan petugas. Di sebelahnya, temannya hanya bisa terdiam, sama-sama terpukul. Menit demi menit merayap lambat, terasa menyakitkan seperti siksaan. Harapan, yang tadinya membara, kini perlahan meredup menjadi abu. Lima jam berlalu dalam kehampaan yang mencekik.
Intervensi Tak Terduga
Ketika kegelapan hampir menelan segalanya, sebuah sosok muncul, membawa seberkas cahaya. Seorang wanita Korea paruh baya, Jong Sun Ja, berusia 60-an, melangkah masuk ke kantor polisi. Di tangannya, ia menggenggam sebuah amplop. Amplop yang sama.
Dengan suara penuh keikhlasan, ia berkata kepada petugas: “Saya menemukan ini dalam perjalanan. Saya yakin siapa pun yang kehilangan ini pasti sangat sedih, jadi saya memutuskan untuk membawanya ke sini.”
Pada detik itu, tangisan mahasiswi itu berubah. Bukan lagi tangis pilu, melainkan tangis syukur yang meluap-luap. Ia menghambur, memeluk erat wanita penyelamat itu. Masa depan akademiknya, yang nyaris hancur, kini kembali utuh berkat tindakan tulus seorang asing.
Refleksi Kemanusiaan yang Langka
Ia tak percaya. Bagaimana mungkin seseorang, di tengah godaan untuk menyimpan uang sebanyak itu, justru memilih jalan kejujuran?
Ketika ditanya mengenai alasannya, Jong Sun Ja menjawab dengan kerendahan hati yang luar biasa, sebuah kalimat yang menggema kuat: “Siapa pun akan melakukan hal yang sama.”
Namun, realitasnya, sangat sedikit orang yang benar-benar melakukannya.
Momen kecil itu, lebih dari sekadar mengembalikan sejumlah uang, telah memulihkan iman pada kemanusiaan. Di era yang sering kali didominasi oleh kekacauan dan ketamakan, kisah ini menjadi pengingat dramatis: kebaikan hakiki masih hidup. Dan satu tindakan kejujuran, yang dilakukan oleh satu orang, memiliki kekuatan untuk secara ajaib mengubah nasib orang lain. Sebuah keajaiban yang lahir dari hati nurani di tengah jalanan Busan.














