Gus Badawi : NU Antara Dua Kutub Idiologi Politik dan Keagamaan

Slidik .com
Pasang

Gus Badawi : NU Antara Dua Kutub Idiologi Politik dan Keagamaan

 

” Kita akan membedah posisioning kita bersama sekalku Nahdliyin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada dua kutub idiologi yang menggerus idiologi kelompok Nahdliyin, yaitu kelompok liberal dan kelompok pemahaman Islam tekstualis. Kedua kelompok ini terus menerus menyerang kekuatan NU sampai pada aspek politik dengan tujuan agar NU tidak memiliki peran dalam politik kebangsaan,. Kelompok tekstualis dalam hal ini Wahabi yang lepas dari manhaj maslahah. Sementara kelompok kedua di bawah pemikiran Najmuddin At Tufi dari Mesir dengan pemikiran yang liberal, ” kata KH Ahmad Badawi Basyir selaku Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB saat menjadi Nara Sumber dalam Halaqoh Kebangsaan di Pondok Pesantren As Syamsuriyyah Jagalempeni.

 

Gus Badawi mengungkapkan bahwa ada beberapa kekuatan dalam kehidupan berbangsa selain memiliki jumlah juga memilik kekuatan yang meliputi kekuatan tradisi, harta , kekuasaan dan kekuatan lain untuk meraih kejayaan, kemenangan dan peradaban. NU memiliki kekuatan tradisi yang kuat terutama dipegang oleh komunitas santri. Kekuatan ini menjadi ketakutan oleh beberapa pihak lain, sehingga berupaya agar kekuatan tersebut semakin lemah dan tidak berdaya.

Baca Juga....!!!  Orang NU Saatnya Tidak Lagi Tayamum dalam Politik

 

” Semua bangsa tahu kekuatan rill di pedesaan ada di kaum santri, akan tetapi kekuatan tersebut hanya pada segmen kekuasaan istighosah. Belum menyentuh terhadap sendi sendi kekuatan bangsa dan negara yang meliputi ekonomi, politik, budaya pasar dan global. Gejala kekuasaan global kita lagi diserang oleh dua kekuatan besar terkait dengan idiologi politik dan agama. Dua kekuatan besar tersebut terus menggerus idiologi Ahlusunah Wal jamaah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara” lanjut Gus Badawi.

 

Gus Badawi menuturkan, para Kyai jarang memahami gejala ini karena sedikitnya kepedulian terhadap hal tersebut, sehingga santri kehilangan sensitifitas rasa hidup bersama dan rasa jihad bersama. Kedua Idiologi tersebut bertarung menyerang kita. Sehingga pada saat yang sama orang yang bersikap netral sesungguhnya hanya mencari aman atau biar mendapatkan dari keduanya dengan doanya, agar kesana dapat kesini juga dapat sesuatu.

 

Menyinggung politik kebangsaan menurut Wakil Ketua DPW PKB Jawa Tengah, saat ini bicara politik kebangsaan yang senafas dengan NU hanya PKB. Meski di atas terjadi perbedaan pendapat tetapi sesungguhnya di bawah sama dalam satu tarikan. Oleh karena itu saat ini partai yang hijau di Senayan hanya PKB. Basis idiologis, historis dan aspirasi untuk nahdliyin sudah jelas PKB. Kalau bicara aspirasi yang dititipkan kepada partai lain tentu tidak bisa mengatasnamakan NU.

Baca Juga....!!!  Pelantikan PERGUNU Kabupaten Brebes: Menguatkan Peran Guru NU dalam Menghadapi Tantangan Global

 

” Kami sudah berkeliling di beberapa Kyai di Jawa Tengah untuk bersama memperkuat PKB. Hal tersebut karena PKB menjadi partai politik yang mewadahi aspirasi politik Kyai. Inilah yang sudah dibuktikan saat kemarin ada ramai kasus Pondok Pesantren Al Khoziny dan Penghinaan terhadap Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, dewan PKB menjadi garda terdepan dalam memfasilitasi pertemuan dengan HIMASAL DKI Jakarta dan Jawa Barat. Tentu ini menjadi tugas kami selaku Dewan Syuro PKB dan para anggota dewan dari PKB,” imbuh wakil sekretaris DPW PKB Jawa Tengah.

 

Halaqoh Kebangsaan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren As Syamsuriyyah Jagalempeni Kec Wanasari Kab Brebes pada hari Ahad 2 Nopember 2025 dihadiri oleh perwakilan Pengurus Ranting NU se Kecamatan dan Badan Otonom di lingkungan MWC NU Wanasari. Hadir dalam kesempatan tersebut Gus Syaffa, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah sebagai Keynote Spech dalam Halaqoh tersebut.

Baca Juga....!!!  Kabupaten Grobogan Akan Segera Miliki Perda Pendidikan Diniyah

 

Nyai Nafisatul Khoiriyah selaku anggota DPRD Kab Brebes juga hadir sekaligus memberikan sambutan atas nama Pengasuh Pondok Pesantren As Syamsuriyyah. Beberapa pengurus MWC NU juga hadir dalam kesempatan tersebut, termasuk Rois Syuriah, Ketua Tanfidziah dan beberapa jajaran Syuriyah dan Tanfidziah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *